Halal Haram Vitamin dan Produk Multivitamin

Multivitamin sudah menjadi kebutuhan yang tidak terpisahkan dari dinamika kehidupan. Aktivitas manusia yang semakin meningkat membutuhkan nutrisi yang lebih dari biasanya. Jika dulu manusia cukup dengan makanan empat sehat lima sempurna, kini menu tersebut dirasa tidak cukup menopang aktivitas yang semakin meningkat.Bagaimana menyikapi multivitamin dan bagaimana pula status kehalalannya?

 

Vitamin merupakan zat gizi yang diperlukan tubuh dalam jumlah tertentu. Vitamin dapat mencegah berbagai macam penyakit dan meningkatkan daya tahan tubuh. Kekurangan vitamin tertentu (avitaminosis) dapat menimbulkan gangguan dan menyebabkan timbulnya penyakit. Sebaliknya kelebihan vitamin (hipervitaminosis) juga bisa menimbulkan efek samping dan gangguan pada tubuh. Oleh karena itu, konsumsi vitamin harus diatur jenis dan jumlahnya secara proporsional.

Secara alami vitamin terdapat dalam berbagai bahan makanan. Vitamin C banyak terdapat pada buah-buahan masak. Vitamin B banyak terdapat pada biji-bijian, kulit umbi, hati hewan dan organ tubuh lainnya. Sedangkan vitamin A banyak terdapat pada wortel dan sayuran berwarna. Karena pola makan yang kurang seimbang, manusia sering mengalami kekurangan vitamin tertentu. Oleh karena itu dirasa perlu untuk menambahkan vitamin dalam bentuk-bentuk yang lain.

Pada berbagai makanan olahan, vitamin sering ditambahkan sebagai bahan tambahan (aditif). Misalnya pada susu bubuk ditambahkan vitamin A, D, dan E. Demikian juga pada minuman ringan dan sari buah sering ditambahkan vitamin C. Pada makanan dan minuman yang ditujukan untuk balita, vitamin tambahan hampir selalu ditambahkan sebagai bagian dari ingredient. Melihat peredaran makanan olahan tersebut, vitamin sebenarnya sudah cukup tersedia di dalam makanan dan minuman yang kita konsumsi sehari-hari. Lalu kenapa masih diperlukan tablet atau minuman multivitamin?

Ada beberapa alasan seseorang terpaksa harus mengonsumsi multivitamin. Alasan utama adalah kebutuhan terhadap aktivitas ekstra yang memerlukan energi ekstra pula. Tugas bertumpuk yang harus diselesaikan dalam waktu singkat menyebabkan seseorang harus beraktivitas ekstra hingga lembur malam. Bahkan untuk sekedar makan dengan menu lengkap pun sudah tidak sempat lagi. Akibatnya mereka harus mencari terobosan dan jalan pintas guna memenuhi tuntutan tersebut. Multivitamin menjadi salah satu alternatif yang banyak digandrungi.

Melihat kondisi demikian para produsen memanfaatkan peluang tersebut dengan sebaik-baiknya. Iklan multivitamin tampil begitu heboh. Dengan meminum sebutir multivitamin seseorang digambarkan bisa memiliki energi tambahan yang luar biasa, bisa menyelesaikan tugas-tugas dengan cepat. Tanpa memikirkan efek samping, multivitamin digambarkan sebagai dewa penyelamat yang bisa mengatasi berbagai persoalan dengan gampang. Tak mengherankan dengan melihat iklan tersebut, orang pun berbondong-bondong membeli dan mengonsumsinya.

Dari segi bahan, multivitamin yang beredar saat ini sebagian besar berasal dari vitamin sintetis atau produk mikrobial. Jarang sekali ditemukan vitamin alami yang berasal dari alam. Vitamin tersebut kalau dikonsumsi terlalu banyak akan menimbulkan efek samping pada tubuh.

Dari segi kehalalan, vitamin juga perlu dikaji secara lebih mendalam. Proses mikrobial yang sering dipakai dalam memproduksi vitamin selalu menggunakan media untuk menumbuhkan mikroba tersebut. Bahan yang terdapat pada media tersebut bisa berasal dari bahan-bahan haram dan najis, seperti darah, ekstrak daging dan sebagainya. Jika media yang digunakan haram, maka produk yang dihasilkannya akan menjadi haram pula.

Pada beberapa vitamin yang tidak stabil sering ditambahkan bahan pelapis (coating). Bahan tersebut digunakan untuk melindungi vitamin agar aktivitas dan khasiatnya tidak menurun oleh pengaruh sinar atau suhu tinggi. Bahan pelapis tersebut bisa berasal dari bahan yang haram, seperti gelatin dari tulang babi atau sapi yang tidak disembelih menurut aturan Islam.

Beberapa multivitamin dibungkus dengan kapsul agar lebih praktis dan mudah ditelan. Kapsul inipun perlu diwaspadai, karena hampir semua kapsul berasal dari gelatin. Sama dengan bahan pelapis, gelatin pada kapsul harus diwaspadai juga apakah berasal dari tulang halal atau haram.

Menyadari akan efek samping yang bisa ditimbulkan dan status kehalalan yang masih meragukan tersebut, penggunaan multivitamin perlu dilakukan dengan hati-hati. Hal yang paling penting adalah memastikan bahwa multivitamin tersebut halal. Selanjutnya, bila memang harus mengonsumsi multivitamin, gunakanlah secara proporsional dan seperlunya. Sesuatu yang berlebihan akan menimbulkan efek yang tidak baik pada tubuh kita. Jangan karena ingin mendapatkan energy ekstra dan stamina yang lebih baik kita korbankan aspek kehalalan dan kesehatan tubuh kita.

Leave a Comment