fenomena hobi bisnis batu akik

Fenomena Hobi Sekaligus Investasi Batu Akik

Heboh batu akik kini tak kalah seru dibanding ngomongin sepak bola, bisa seharian nggak ada habisnya. Bisnis batu akik pun tumbuh bak jamur di musim hujan. Batu Bacan, batu Garut, batu Sungai Dareh, batu Kalimaya, atau batu Giok Aceh menjadi sangat populer, harganya konon bisa mencapai miliaran rupiah.

fenomena hobi bisnis batu akik

Fenomena batu akik bisa dibilang fenomenanya kelas menengah. Karena, harga akik kini sudah cukup mahal mulai dari ratusan ribu sampai jutaan rupiah. Dari sudut pandang konsumen kelas menengah, ada 3 tiga alasan yang menjadikan batu akik ini demikian heboh.

Hobi Sekaligus Investasi

Alasan pertama dari sisi hobi dan investasi. Kelas menengah adalah konsumen yang kebutuhan-kebutuhannya mulai sophisticated, tak melulu mencukupi kebutuhan sandang-pangan-papan. Dengan kemampuan keuangan dan daya beli yang lumayan, mereka mulai membutuhkan hiburan, liburan, atau memanjakan hobi. Nah, contoh hobi yang kini kian mereka gemari adalah mengoleksi batu akik.

Hobi mengoleksi batu akik kini menjadi spesial bagi kelas menengah mengungguli hobi-hobi yang lain karena di dalamnya terdapat unsur investasi. Perlu diingat, salah satu ciri lain dari kelas menengah adalah mereka mulai memiliki uang menganggur (discretionary income) yang bisa diinvestasikan ke dalam berbagai bentuk portofolio investasi mulai dari deposito, emas, properti, hingga saham. Batu akik berpotensi menjadi portofolio investasi yang menarik akhir-akhir ini karena nilainya yang terus naik.

Nah, ketika hobi dan investasi ini bisa “bersatu-padu” dalam entitas bisnis akik, maka tak mengherankan ini menjadi pilihan yang menarik bagi kalangan kelas menengah.

Obsesi Kebebasan Finansial

Alasan kedua dari sisi mimpi kelas menengah untuk mencapai kebebasan finansial (financial freedom). Inilah mimpi terbesar dari kalangan kelas menengah kita: kerja habis-habisan di usia muda, lalu memasuki usia 40 atau 50 tinggal ongkang-ongkang kaki menikmati hidup dengan bunga deposito atau gain saham.

Nah, bisnis batu akik bisa menjadi medium baru bagi kalangan kelas menengah kita untuk mewujudkan kebebasan finansial tersebut dengan cara aji mumpung memanfaatkan harganya batu akik yang bisa naik gila-gilaan.

Para “pelaku dadakan” bisnis akik ini terobsesi untuk kaya mendadak karena terbius oleh simpang-siur informasi mengenai tingginya nilai batu akik. konon harga satu batu akik bisa mencapai Rp.18 miliar… wow!!! Semua orang terbuai oleh obsesi menjadi kaya mendadak.

Peran Media Sosial Menyebar Seperti Virus

Alasan ketiga adalah hadirnya media sosial yang memainkan peran kunci dalam “menggoreng” nilai batu akik yang gila-gilaan. Seperti saya ungkapkan di depan konsumen kelas menengah adalah kalangan yang socially-connected alias terhubung satu sama lain oleh media seperti blog, Twitter, atau Facebook. Dengan adanya media sosial, informasi apapun merambat demikian cepat. Contohnya harga batu akik Rp.18 miliar tadi, bisa merambat demikian cepat menghasilkan promosi dari mulut ke mulut (word of mouth, WOM) yang menjadikan bisnis ini demikian hot dan atraktif.

Komunitas-komunitas batu akik, baik offline maupun online, menjadi agen yang penting bagi terwujudnya hal tersebut. Melalui percakapan di dalam dan antar komunitas itulah nilai bisnis batu akik “digoreng” sehingga memiliki daya tarik yang luar biasa. Kisah-kisah sukses pebisnis batu akik begitu bombastis disebarkan melalui media sosial bak virus ganas. Dari situ muncul exhuberance alias kegairahan luar biasa untuk berbisnis batu akik, tak hanya dari kalangan yang telah lama berkecimpiung di bisnis ini tapi terutama orang-orang awam dan pebisnis-pebisnis batu akik dadakan. Harap diketahui, yang justru heboh adalah yang terakhir ini.

Harus diakui heboh bisnis akik membawa manfaat ekonomi yang positif bagi kita semua. Namun berhati-hatilah, jangan sampai kejadian heboh Anthorium atau ikan Louhan yang sangat marak dan hilang begitu saja, terulang kembali.