Cek Keberangkatan Haji Online dengan Nomor Porsi Terbaru

KEMUNGKINAN PENUNDAAN KEBERANGKATAN HAJI 2020/1441H

Cek keberangkatan haji anda berdasarkan nomor porsi yang telah dimilikinya. informasi tahun berangkat haji akan diberikan secara online, namun tahun berangkat haji akan selalu berubah karena kuota haji yang bisa bertambah ataupun berkurang dari saudi. baiknya periksa Informasi keberangkatan haji bisa secara online dicek rutin tiap minggu. bila tahu info jadwal berangkat haji mempersiapkan segala kebutuhan haji.

Catatan:

  1. Jika hasil estimasi keberangkatan haji tidak terlihat/error maka saat ini sedang dalam perbaikan database. Perbaikan database dilakukan rutin oleh Kemenag, jadi kalau Anda tidak bisa mengeceknya, coba cek lagi di lain hari.
  2. Nomor porsi hanya untuk jamaah haji kuota Depag Resmi (haji non-kuota tidak ada nomor porsi).
  3. Nomor porsi haji terdiri dari 10 digit yang tertera di bukti setoran BPIH. Ingat nomor porsi haji berbeda dengan nomor SPPH.
  4. Pastikan langsung ke Kantor Wilayah Kemenag dimana anda mendaftar atau bisa menghubungi call center haji kemenag di

Pembatalan ibadah haji 2020M/1441H tahun ini berlaku untuk seluruh Warga Negara Indonesia (WNI). Baik yang menggunakan kuota haji dari pemerintah, maupun yang menggunakan visa haji furoda atau yang menggunakan undangan haji khusus dari pihak Arab Saudi.Pemerintah melalui Kementerian Agama memutuskan Indonesia tak mengirimkan jamaah haji ke Arab Saudi tahun ini karena wabah virus corona.

Indonesia sendiri tahun 2020 seharusnya mendapat kuota haji sebesar 221 ribu jemaah. Jumlah itu terdiri dari 203.320 kuota haji reguler dan 17.680 kuota haji khusus.


* Perkiraan berangkat dapat berubah, sesuai dengan regulasi.

Haji dengan kata lain ibadah mendatangi Baitullah (Kabah) di Makkah untuk mengerjakan ibadah untuk Allah SWT pada waktu yang tertentu (musim haji), dan dengan tata cara pelaksanaan tertentu secara tertib.

Berhaji merupakan rukun Islam yang kelima dan hukumnya wajib dilaksanakan bagi setiap umat Islam yang memiliki kesanggupan serta dilaksanakan sekali dalam seumur hidup. (QS. Ali Imran [3]:97).Namun bila ingin melaksanakn haji lebih dari sekali, maka hukumnya sunah.

Hal ini didasarkan pada hadis Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ra yang artinya, ”Rasulullah berkhutbah untuk kami, beliau berkata, ‘Wahai sekalian manusia, telah diharuskan haji atas anda sekalian.’ Lalu al-Aqra bin Jabis berdiri, lantas berkata, ‘Apakah keharusan haji masing-masing tahun ya Rasulullah? Nabi menjawab, ‘Sekiranya kukatakan ya, pastilah menjadi wajib, dan seandainya diwajibkan, anda sekalian tidak bakal melakukannya, dan pula tidak mampu.

Ibadah haji tersebut sekali saja. Siapa yang menambahi tersebut berarti tindakan sukarela saja.”Adapun masa-masa pelaksanaan haji didasarkan pada firman Allah SWT dalam surah Al Baqarah ayat 197 yang artinya, ”Haji ialah beberapa bulan yang dimaklumi…” Kemudian semua ulama sepakat bahwa pengamalan haji jatuh pada bulan Syawal, Zulkaidah dan Zulhijjah.

Syarat, Rukun dan Kewajiban haji

Syarat agar dapat mengerjakan ibadah haji ialah (1) Islam, (2) akil balik (dewasa), (3) berakal (tidak gila), (4) orang merdeka (bukan budak), dan (5) dapat dalam segala hal, contohnya dalam urusan biaya, kesehatan, ketenteraman dan nafkah untuk keluarga yang ditinggalkan.

Adapun rukun haji ialah perbuatan-perbuatan yang kewajiban dilakukan. Rukun haji tersebut ialah (1) ihram, (2) wukuf di Padang Arafah (sebelah unsur timur kota Makkah), (3) thawaf ifadah, (4) sai (lari) antara Safa dan Marwah, (5) memotong rambut kepala atau memotongnya sebagian, dan (6) tertib (pelaksanaannya berurutan dari nomor 1 hingga 5). Jika di antara rukunnya ditinggalkan, maka hajinya tidak sah.

Sedangkan kewajiban haji ialah perbuatan-perbuatan yang wajib dilaksanakan dalam mengemban ibadah haji. Adapun kewajiban haji ialah (1) mengawali ihram dari miqat (batas masa-masa dan lokasi yang ditentukan untuk mengerjakan ibadah haji dan umrah), (2) melempar jumrah, (3) mabit (menginap) di Muzdalifah (Makkah). Jika di antara wajib haji ditinggalkan, maka hajinya tetap sah namun harus menunaikan dam (denda).