Cara Menggunakan Mesin Penetas Telur Supaya Sukses

Penetasan pada unggas dapat dipisahkan menjadi dua , yakni : secara alamiah dan buatan. Penetasan secara alamiah (natural incubation) tergantung sepenuhnya pada induk penghasil telur tetas tersebut sendiri. Sebaliknya pada penetasan secara produksi (artificial incubation) dimana sepenuhnya tergantung pada tiga pokok besar yakni : mesin tetas, telur tetas dan oprerator.

Penetasan Secara Alami : seringkali telur yang ke 10 hari lebih, akan menyerahkan tingkat daya tetas yang lebih rendah bila dikomparasikan dengan tidak cukup hari ke 10, urusan ini diperkirakan ada kaitannya dengan lama simpan telur yang lebih dari 7 hari. Dimungkinkan bila lebih dari 7 hari chalaza sebagai pemisah antara yolk dan albumen putus sampai-sampai akan menjadi kopyor pada telur tersebut berdampak untuk menampung sebagai lokasi perkembangan benih akan terganggu sehingga diperoleh daya tetas yang rendah.

Faktor minusnya penetasan alami , diantaranya ialah: jumlah telur yang ditetaskan terbatas, sulit menata waktu penetasannya dan hasil tetasannya tidak cocok yang anda harapkan sebab tidak adanya seleksi telur tets terlebih dahulu.

Penetasan Secara Buatan : Prinsip proses penetasan secara produksi diilhami oleh masyarakat Mesir beratus tahun yang lalu, dimana masyarakat Mesir guna menetaskan telur dengan teknik telur dikubur di pasir panas, dengan kesederhaannya itu tingkat daya tetasnya rendah. Kemudian ditemukanlah penetasan secara produksi yang canggih yang masih berlaku ketika ini.

Prinsip proses penetasan produksi garis besarnya diprovokasi oleh 3 hal yaitu : telur tetas yang bakal ditetaskan, mesin tetas yang akan dipakai dan orang yang menjalankan proses penetasan itu (operator). Jika diprosentasekan dari ke 3 hal tersebut ialah sebagai inilah : 33,3% diprovokasi oleh telur tetas, 33,3 diprovokasi oleh mesin tetas dan 33,3 ditentaukan oleh peranan petugasnya. Agar telur tetas menyerahkan peranan sebesar tersebut maka telur yang bakal ditetaskan mesti diseleksi, adapun hal-hal yang butuh diseleksi ialah sebagai inilah : format telur (harus oval, lebih tepat dihitung indek telur= sumbu pendek dipecah sumbu panjang telur dikalikan 100 %, andai 72 – 74 % berarti telur tsb oval), telur mesti berasal dari pejantan (sex ratio, tiap bangsa unggas berbeda), berat telur (bangsa unggas berbeda), lama simpan (tidak lebih dari 7 hari), kesucian telur (agar pori-pori kulit telur tak tertutup dengan kotoran shg respirasi benih dapat berlangsung dengan lancar), keutuhan telur (usahakan telur tak retak), warna telur/yang gelap lebih memungkinkan menemukan daya tetas yang relatif lebih banyak bila dikomparasikan dg yang terang (penilaian item ini melulu pada jenis telur yg berasal dari bangsa unggas yang sama, contoh : telur itik mesti dikomparasikan dg telur itik, namun tidak boleh dikomparasikan dengan telur puyuh).

Begitu pula supaya mesin tetas menyerahkan peranan sebesar itu, maka mesin tetas mesti menyerahkan kondisi jasmani yg optimal dengan kata lain mesin tetas disebutkan baik andai memberikan suhu dan kelembaban yang optimal yang dicocokkan dengan telur bangsa unggas yang bakal ditetaskan, andaikan : telur puyuh mesti diiringi dengan suhu 99 derajat Fahrenheit, telur ayam dg suhu 101 derajat Fahrenheit, dst.

Nah, supaya peranan operator dapat memberikan peranan yang diprosentasekan di depan, maka operator mesti memahami ilmu penetasan dan kawakan dalam menjalankan proses penetasan, adapaun tugas operator yang utama dan kesatu ialah : mesti memahami masa kritis I dan II, mesti dapat mengcandling telur, mesti dapat cara membalik telur, mesti dapat mengatur suhu dan kelembaban yang benar, mesti memahami kapan berakhirnya proses penetasan. Pada akhir dari proses penetasan ialah menghitung % fertilitas telur (yg bisa dihitung dg membagi jumlah telur yang masuk dengan telur yang fertil dikalikan 100%) dan menghitung % daya tetas (yg bisa dihitung dengan membagi telur yang fertil dengan telur yang menetas dikalikan 100%). Jika hasil daya tetasnya 80 % dapat dikatakan berhasil. Kemudian ditentukan jenis kelaminnya, di packaging kemudia didistribusikan ke konsumen.

HAL-HAL YANG BERKAITAN DENGAN PROSES PENETASAN:

A. Jenis Telur Tetas Lebih Mahal Dari Telur Konsumsi.

Jenis telur pada bangsa unggas dipecah menjadi 2 jenis, jenis kesatu yang dinamakan telur konsumsi dan yang kedua telur tetas. Telur konsumsi telur yang berasal dari induk bangsa unggas yang tidak dibuahi oleh pejantan, dengan begitu telur konsumsi tidak dapat ditetaskan sebab infertil (tak subur).

Telur tetas ialah telur yang berasal dari induk yang sudah dibuahi oleh pejantan, sampai-sampai dapat ditetaskan sebab telur itu bertunas (fertil). Oleh sebab telur tetas berasal dari induk jantan dan betina maka jumlah unggas yang dipelihara lebih tidak sedikit bila dikomparasikan yang tanpa pejantan ( sebagai contoh : untuk mendapat telur masing-masing hari 10 butir, andai imbangan jantan betina 1 : 2, maka jumlah unggas yang dipelihara 10 ekor induk dan 5 ekor pejantan guna menghasilkan 10 butir telur tetas, sementara untuk menghasilkan telur konsumsi 10 butir, maka jumlah unggas yang dipelihara melulu 10 ekor induk saja). Dan menurut keterangan dari pengalaman unggas yang dibaur jantan dan betina buatan telurnya lebih rendah bila dikomparasikan dengan unggas induk sejenis, urusan ini diperkirakan terganggunya ketika bertelur. Berdasarkan itu maka ongkos produksinya lebih tidak sedikit induk pengahasil telur tetas, dengan demikian lazimnya harga telur tetas lebih mahal bila dikomparasikan dengan telur konsumsi.

B. Suhu Type Still Air lebih tinggi Vs dengan Type Force.

Ada dua type mesin tetas yang dipakai dalam proses penetasan secara buatan. Type kesatu ialah jenis mesin type Still Air Incubators dan Force Draught Incubator. Type Still Air Incubators :biasanya berkapasitas telur yang ditetaskan terbatas, yakni sekitar antara 100 a/d 350 butir telur ras. Sumber pemanasnya dapat berasal dari minyak tanah (teplok), listrik, briket bioarang (anglo).

Oleh karena konsentrasi pemanas terpancar pada satu titik ke permukaan telur saja berdampak penerimaan panasnya tidak bisa merata sampai-sampai type ini mutlak mesti dibalik supaya mendapat panas yang merata. Dengan demikian sebab Still panasnya melulu dari permukaan atas saja maka suhunya mesti lebih banyak bila dikomparasikan dengan Force. Force panasnya berasal dari kipas angin yang terdapat di dalammnya, yang mana panas itu akan didistribusikan ke segala arah, sampai-sampai dengan suhu yang rendah bila dikomparasikan dg still, force sudah dapat memanasi telur-telur yang ditetaskan.

C. Kelembaban Tinggi jauh Lebih Bagus Daripada Kelembaban Rendah

Satuan guna menghitung dari kelebaban ialah prosentase (%). Semakin tinggi sebarannya maka semakin menyerahkan proses pipping yang lebih sempurna, yang pada gilirannya menyerahkan tingkat daya tetas yang meningkat. Mengapa semikin tinggi Rh semakin baik dalam proses penetasan sebab dengan tinggi Rhnya maka benih akan gampang menyerap Ca dan P yang terdapat di cangkang yang dapat dipakai sbg pembetukan tulang, sampai-sampai pada proses pipping yang berperan dens ovifragusnya maka solusi telur ketika pipping dapat berlangsung dengan sempurna.

D. Ketepatan Masa Inkubasi Dipengaruhi Kestabilan Suhu

Suhu pada mesin tetas merupakan hal yang sangat urgen didalam perkembangan benih selama dalam telur. Jadi andai suhu dalam mesin tak dikontrol de ngan cermat maka berdampak fatal yang pada gilirannya bakal gagal dalam menetaskan telur. Kebutuhan suhu dalam mesin pada telur dari sekian banyak bangsa unggas berbeda. Prinsipnya semakin besar telur yang ditetaskan akan membutuhkan suhu yang lebih tinggi, contoh : telur cecak, telur puyuh, telur merpati, telur ayam, telur itik dan telur angsa akan bertolak belakang ( disini besar telur dari yg terkecil menuju telur yang lebih besar). Jika dalam proses penetasan telur suhu normal sekitar proses penetasannya, maka akan menyerahkan waktu tetas yang tepat (sesuai masa inkubasi dari telur tersebut sendiri, contoh : telur puyuh masa inkubasinya 17 hari, ayam 21 hari, itik 28 hari) dan menghasilkan tingkat daya tetas yang tingi, sebab proses perkenbangan benih dapat berlangsung normal sebagai dampak organ vitalnya bisa terbentuk dan berkembang secara optimal dan norma. Sebaliknya andai selama proses penetasan suhunya tidak cukup maka masa inkubasi bakal lebih tinggi tetapi benih akan mati, demikian pula suh yang lebih tinggi sekitar proses penetasan berlangsung.

E. Suhu Mesin Tetas Baru Perlu Diatur Secara Pas

Mesin tetas type Still Air yang baru dibeli dari Poultry Shop pada lazimnya suhu (thermostat)nya belum diatur, andai sudah ditata akan berubah status thermoregulatornya dari posisi normal berubah ke tidak normal sebab kegeseran ketika pengangkutan dan transportasi. Untuk awam yang baru akan mengawali menetaskan telurnya, masalah penataan suhu tak diacuhkan sehingga begitu kabel mesin tetas disalurkan ke listrik, kemudia telur dimasukkan, maka situasi suhu yang tak normal, barangkali terlalu timggi atau terlampau rendah sampai-sampai daya tetasnya bakal rendah atau bahkan tak terdapat yang menetas alias gagal.

Cara menata suhu, kesatu – tama yang mesti ditata thermostatnya, ditata sedemikian rupa sehingga menjangkau suhu yang diinginkan, sebagai contoh : guna ementaskan telur puyuh 99 derajat Fahrenheit, telur ayam 101 derajat Fahrenheit dst.

F. Masa Kritis Penentuan Keberhasilan Proses Penetasan

Masa kritis ialah waktu yang sangat urgen dalam proses pembentukan dan perkembangan benih dalam telur tetas sekitar dalam proses penetasan. Masa kritis kesatu dihitung dari hari ke satu hingga dengan hari ke tiga sesudah telur dimasukkan dalam mesin tetas.

Untuk masa kritis kesatu ini semua telur bangsa unggas ialah sama hitungannya. Dalam masa kritis kesatu ini terbentuknya alat-alat vital dalam organ tubuh benih (pembuluh darah, janung, ginjal dll), supaya pembentukan organ vital tsb dapat berlangsung dengan sempurna mesti diperlukan suhu mesin tetas guna ayam 101 derajat Fahrenheit. Oleh karena tersebut jika ketika masa kritis kesatu tsb sumber pemanasnya terganggu (listrik mati, lampu teplok yang tak mengisi syarat), maka bakal terjadi kegagalan karena benih mati. Sedangkan pada masa kritis ke dua ini seluruh organ tubuh tergolong bulu telah terbentuk. Nah untuk mengerjakan pemecahan pada kulit telur (proses pipping) si benih tsb mesti memerlukan energi atau tenaga guna proses pipping, yang mana diperlukan suhu selama 101 – 102 derajat Fahrenheit dan kelembaban 70 – 80 %. Nah, andai suhu dan kelembaban tak terpenuhi sebab sumber pemanas terganggu ( listrik mati, dlsb), maka akanterjadi kegagalan sampai-sampai tak menetas. Dengan demikian hal suhu, kelebaban dan operatorlah yang memegang peranan urgen dalam mengatur supaya masa kritis dapat berlangsung dengan lancar.

G. Hubungan Antara Berat Telur dengan Bobot Tetas

Bobot telur pada bangsa bisa dirumuskan inilah ini : semakin kecil badannya maka semakin kecil mutu telurnya (sebagai contoh : telur puyuh = 10-12 gram, merpati = 22 gram, ayam dusun 40-45 gram, itik = 60 – 65 gram), disini tampak semakin besar mutu badannya semakin besar telur yang dihasilkan.

Begitu pula, andai telur-telur dari bangsa unggas itu ditetaskan bakal menghasilkan mutu tetas yang bertolak belakang pula. Dengan demikian terdapat korelasi yang positif bahwa semakin besar telur yang ditetaskan bakal menghasilkan mutu tetas yang semakin besar pula.

Nah, dengan bisa dirumusakan bahwa guna menghitung mutu tetas bisa dihitung dengan formula berikut : 70/100 x mutu telur bangsa unggas = mutu tetas.

H. Hubungan Jenis Telur Dengan Kebutuhan Panas Dalam Mesin Tetas

Yang tergolong unggas (poultry) ialah ayam, itik, kalkun, entok, puyuh, merpati, angsa, walet dan atau bangsa burung lainnya. Dari jenis unggas itu yang sudah tidak sedikit dikonsumsi masyarakat dan dianalisis oleh peneliti ialah ayam, itik, kalkun, puyuh, entok dan angsa. Semakin besar tubuh dari unggas terdapat kecenderungannya guna menghasilkan besaran telurnya semakin besar pula.

Dalam proses penetasan suhu dan kelembaban dalam mesin tetas memegang peranan urgen disamping faktor-faktor lainnya.Nah, andai telur dari jenis unggas itu akan ditetaskan maka keperluan akan suhu dalam mesin tetasnya akan bertolak belakang pua. Hal ini diakibatkan karena semakin besar telur bakal menghasilkan benih yang lebih banyak pula., demikian pula panas yang diperlukan untuk pembentukan dan perkembangan benih akan semakin besar pula.

I. Bentuk Telur Menjadi Penentu Tingkat Daya Tetas

Tolok ukur keberhasilan dalam menetaskan telur unggas ialah banyaknya dari telur-telur yang menetas dari telur yang fertil dari jumlah telur yang ditetaskan. Tak diragukan lagi bahwa prosentase daya tetas ditentukan oleh 3 faktor, yakni Operator (orang yang menetaskan), Telur yang bakal ditetaskan dan Mesin tetas yang dipakai dalam proses penetasan. Telur yang bakal ditetaskan kriteria utamanya ialah telur itu harus fertil (penentu fertil tidaknya telur dengan perangkat Candler). Bagi menghasilkan telur-telur yang mengisi syarat guna ditetaskan maka telur-telur itu harus dan perlu guna diseleksi (atau lebih dikenal dengan seleksi telur tetas).

Salah satu penyeleksian telur tetas yang penting ialah diantaranya ialah bentuk telur tetas. Sebutir telur bisa dikeluarkan melewati saluran telur (oviduct) memakan waktu selama 25,1 jam ( sehari lebih 1 jam). Jika dalam proses peneluran itu terganggu (karena nutrisi, genetik, lingkungan kandang selama baik secara internal maupun ekternal maka bakal menghasilkan telur-telur yang memiliki macam-macam format telur. Dikenal terdapat 3 format telur unggas yakni : bulat, lonjong dan oval telur.

Dari ketiga format tersebut yang ovallah yang baik guna ditetaskan sebab menghasilkan daya tetas yang lebih tinggi bila dibandigkan dengan format bentuk lainnya. Bagi menghitung format telur itu bulat, lonjong atau oval bisa dihitung dengan memakai rumuss yang dinamakan : INDEK TELUR / IT (EGG INDEX) = sumbu pendek dipecah sumbu panjang telur dikalikan 100 persen, andai telur tersebut tergolong oval maka IT nya 72 – 74%, sementara yang bulat lebih dari 72 – 74 % dan lonjong dibawah 72 – 74%.

J. Jarak Bak Air Berpengaruh Terhadap Proses Piping

Perlu diketahui bahwa normal atau tidak normalnya besaran kelebaban (%) dalam mesin tetas dapat dominan terhadap proses pipping dan pada giliranya akan mengakibatkan tingkat daya tetasnya. Sumber adanya kelembaban tingig atau rendah berasal dari bak air dalam mesin tetas dan penyemprotan pada permukaan telur tetas yang ditetaskan dalam mesin tetas. Bak air dalam mesin tetas pada mesin tetas type Still mutlak adanya. Anjuran pengarang Luasan bak air sebesar luasannya dari jumlah telur yang ditetaskan pada rak telur. Jika kriteria itu tak dipenuhi, tentu akan menghasilkan daya tetas yang rendah, demikian pula jarak bak air dengan jarak rak telur usahakan 2 hingga 3 cm. Dengan kedua kriteria tersebut dipatuhi maka bakal menghasilkan ingkat daya tetas yang tingi. Mengapa? sebab dengan luasan dan elevasi yang balance maka bakal menghasilkan besaran persentase kelembaban yang optimal guna menetaskan telur unggas ( sebab akan menyerahkan tingkat kelembaban antara 60 – 80 %, besaran persentase itu sudah mengisi untuk proses penetasan.

K. Sex Ratio Penentu Utama Dari Telur Fertil

Memperhatikan imbangan jantan dan betina pada bangsa unggas andai akan menetaskan telur WAJIB hukumnya, urusan ini diakibatkan karena imbangan itu sangat dominan terhadap tingkat fertilitas telur. Imbangan jantan dan betina ( jantan : betina ) pada bangsa unggas bisa dipaparkan inilah ini : guna angsa 1 : 3 hingga 4 ekor, itik 1:10 hingga 15 ekor, ayam ras 1 : 5 hingga 8 ekor, buras 1 : 8 hingga 10 ekor, puyuh (Coturnix coturnix japonica) 1 : 3 hingga 4 ekor, merpati 1 : 1 (monogami). Semakin kecil sex rationya bakal menghasilkan tingkat fertilitas yang tinggi pula, diakibatkan karena peluang untuk kawin setiap ketika ada, bila dikomparasikan dengan jumlah yang melebar. Namun bila ditinjau dari sisi ekonomis imbangan yang sempit merugikan, oleh karena tersebut usahakan pedoman yang penulis kemukakan sebagai patokannya.

L. Lama Proses Unggas Menghasilkan Sebutir Telur

Saluran telur pada unggas dinamakan OVIDUCT. Saluran tersebut dipecah menjadi sejumlah bagian, diantaranya merupakan : infundibulum, magnum, istmus, cloaka. Secara normal sebutir telur melalui bagian-bagian itu memakan waktu selama 25,1 jam ( sehari lebih 1 jam ). Nah, dengan begitu secara ilmu pengetahun yang berkiblat pada alasan yang menuliskan bahwa sebutir telur disusun selama sehari lebih satu jam, maka tak akan barangkali seekor induk bakal bertelur sehari 2 butir.

M. Perlukan Fumigasi Pada Telur dan atau Mesin tetas

Fumigasi ialah mensucihamakan mesin tetas dari mikroorganisme yang menenmpel dan atau masuk dalam mesin tetas dengan memakai zat kimia. Zat kimia yang tidak jarang digunakan ialah KMnO4 (Kalium permanganat) yang dibaur dengan Formaldehide 40 %. Mengapa sampai ketika ini zat kimia itu masih digunakan? sebab zat kimia itu tidak merusak mesin tetas dan peralatannya, tidak tergantung dari suhu dan kelembaban linkungan baik lingkungan internal dan eksternal dari mesin tetas, murah harganya, gampang melakukannya, dan gampang didapat/dibelinya, dan yang sangat penting tidak membahayakan operator yang melakukannya serta telur yang fertil yang terdapat dalam mesin tetas tersebut. Cara memakai zat kimia tersebut ialah sebagai inilah : mesin tetas dan peralatannya atau telur yang sudah dimasukkan dalam mesin tetas, gabungan KMnO4 ( 3 gram ) dibaur dengan 3 sendok santap yang ditempatkan pada bekas gelas air mineral, kemudian diblokir selama 15 menit, kemudian dimulai (sudah dapat digunakan). Dalam menjalankan fumigasi usahakan sesudah proses penetasan berakhir.

N. Jarak Bertelur Unggas Berpengaruh Pada Daya Tetasnya

Clutch ialah jarak antara peneluran kesatu ke peneluran berikutnya ( contohnya tanggal 1 induk bertelur sebutir dan tanggal-tangal berikutnya si induk itu bertelur kembali). Clutch oleh pengarang dikenal ada 2 jenis, jenis kesatu clutch sempit dan ke dua clutch renggang. Sebagai misal clutch sempit andai si induk bertelur masing-masing hari (setiap saat), sementara clutch renggang sebaliknya. Dengan demikian dapat dijamin bahwa clutch sempit berarti si induk itu berperoduksi telur tinggi dan kebalikannya untuk clutch renggang. Jadi clutch berkorelasi positif terhadap tinggi rendahnya buatan telur unggas.

Semakin tinggi buatan telur induk bakal menghasilkan tingkat daya tetas yang tinggi bila dikomparasikan dari induk yang berperoduksi rendah. Hal ini diperkirakan induk unggas berproduksi tinggi berarti : 1. Induk itu berasal dari bibit genetik yang unggul, berasal dari induk yang diberi nutrisi yang rasional, pembentukan sebutir telurnya normal, si induk itu mesti sehat dan diberi tatalaksana yang benar dan tepat bila dikomparasikan dengan induk berproduksi rendah.

O. Pembalikan dan Pemutaran Telur Selama Proses Penetasan

Ada ada 2 type mesin tetas yang terdapat di pasaran ketika ini, yakni type Still Air dan type Force Draught. Type still karena konsentrasi dan atau sumber pemanas menuju satu titik saja yakni titik kepermukaan rak telur dalam mesin tetas. Itu berarti aliran panasnya tidak merata ke semua permukaan telur yang ditetaskan, dengna demikian mesin tetas type StillAir mutlak mesti dibalik atau diputar masing-masing saat. Pertanyaannya berapa kali ? jawabannya masing-masing detik, masing-masing menit, masing-masing jam, atau bahkan masing-masing hari BOLEH DILAKUKAN, namun inggat! andai setiap detik, atau masing-masing menit atau masing-masing jam dilaksanakan pembalikan RESIKONYA suhu dalam mesin tetas bakal BERFLUKTUASI (situasi suhu yang berfluktuasi inilah mengakibatkan emrio bakal mati sampai-sampai daya tetasnya NOL). Nah supaya diperoleh suhu yang merata dan suhu yang tak berfluktuasi maka usahakan pemutaran atau pembalikan telur dilaksanakan sehari 3 kali saja yakni pagi, siang dan senja hari, ini bakal menghasilkan panas yang merata berdampak embrio berkembang dengan sempurna dan akan menyerahkan tingkat daya tetas yang tinggi. Sedangkan type Force, sebab adanya kipas angin yang otomatis dalam mesin tetasnya maka akan menyerahkan panas yang merata ke seluruh penjuru permukaan telur pada rak telurnya. Dengan demikian type mesin tetas ini tak butuh dibalik atau diputar.

P. Peneropongan Telur Tetas

Untuk memahami telur itu hidup atau mati dan atau fertil atau infertil maka telur-telur tetas yang dimasukkan dalam mesin (yang ditetaskan) mesti dilihat/diperiksa dengan perangkat yang dinamakan CANDLER (aktifitas memeriksanya dinamakan CANDLING). Alat candler dapat dilakukan dan atau diciptakan dengan teknik : 1. kertas yang digulung, lantas telur ditempatkan ujung dari kertas yang digulung tadi dengan menghadap sumber lampu (neon, dop atau sinar matahari); 2. telur-telur di ayun-ayunkan, andai berbunyi telur itu kopyor sampai-sampai tak dapat ditetaskan sebab Chalaza sebagai pertautan antara Albumen dan Yolk telah putus, jenis telur ini tak dapat menetas; 3. dengan kardus atau bekas toples kue di lubang sebesar telur yang dicek dan dibawahnya diberi lampu sampai-sampai akan nampak ( fertil andai nampak pembuluh darah yang menyebar, kuning andai telur konsumsi dan hitam andai embryo mati/dead embryo). Nah, kapan yg sangat tepat secara ekonomis dilaksanakan ? Jawabannya : hari ke 4 setalah masa kritis I, karena andai infertil telur-telur itu masih dapat dijual sebagai telur konsumsi tetapi andai pemeriksaannnya dilaksanakan hari lebih ke 7, maka telah kopyor sampai-sampai tak dapat dijual sebagai telur konsumsi.

Q. Pengambilan Hasil Tetasannya

Keberhasilan dalam proses penetasan tolok ukurnya ialah tingkat fertilitas dan daya tetas. Semakin tinggi tingkat fertilitas telur yang tetaskan (tentunya hal mesin tetas dan operatornya normal) maka daya tetasnya bakal tinggi pula sebaliknya. Dengan demikian kapan dan bagaimananya hasil tetasannya dipungut dari mesin tetas. Pengambilan hasil tetasannya dipungut dengan rumus ialah sebagai inilah : MASA INKUBASI TELUR + 24 jam. Jadi sebagai contoh antuk puyuh sebab ber masa inkubasi 18 hari diperbanyak 24 jam = hari ke 19.