Step by Step Menghadapi Perilaku Anak Tantrum

Menyikapi anak yang kecenderungan untuk menampilkan perilaku tantrum. Perilaku tantrum adalah kumpulan perilaku marah anak yang ditampilkan karena keinginannya tidak terpenuhi, seperti menangis dengan keras, berguling-guling di tanah bahkan sampai menjatuhkan barang-barang. Biasanya perilaku tersebut akan dipertahankan oleh anak, sampai keinginannya terpenuhi.

Allah SWT berfirman, “sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar” (QS. At-Taghabun, 15).

Peringatan Allah SWT sangatlah jelas, agar kita memperlakukan anak dengan wajar. Lalu, apakah risiko yang akan kita tuai, bila anak tidak diperlakukan semestinya?

Tidak ingin dihakimi secara sosial, biasanya orangtua terpaksa “menyerah” dan memenuhi keinginan anak. Nah, bila hal ini terus dipenuhi, maka anak akan belajar dan paham kalau mau keinginannya terpenuhi, maka anak harus menampilkan perilaku-perilaku tersebut.

Sehingga, perilaku tantrum tersebut akan dipertahankan dan menjadi senjata ampuh anak untuk menyerang orangtua. Berbahayakan perilaku tantrum tersebut?

Sebenarnya, pada usia balita, perilaku tantrum merupakan perilaku yang wajar diperlihatkan oleh anak. Tetapi, orangtua harus berhati-hati apabila perilaku tersebut terus dipertahankan sampai anak menginjak usia sekolah, atau usia 6-12 tahun. Karena, bila tantrum masih terlihat sampai rentang usia tersebut, ada kemungkinan anak mengalami masalah kejiwaan yang disebut Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD).

Untuk mengatasi perilaku tantrum anak, ada beberapa hal yang perlu dilakukan:

Pertama, biarkan anak dengan perilaku tantrumnya. Orangtua sebaiknya menanggapi wajar perilaku anak tersebut. Diamkan saja, sambil pantau kondisi sekitar, pastikan anak aman dari bahaya.

Kedua, jangan marah apalagi memukuli anak. Karena marah tidak akan menghentikan tantrum anak, bahkan anak cenderung meningkatkan perilaku tersebut. Kunci menghadapi anak yang tantrum adalah sabar namun tegas. Sekali mengatakan “tidak” tetap “tidak”.

Ketiga, jangan langsung memenuhi keinginan anak saat sedang tantrum. Ingat, anda sedang “berperang” dengan anak, memenuhi kebutuhan anak saat itu tidak akan menyelesaikan masalah, malah akan menimbulkan masalah baru. Penjelasan tanpa emosi lebih dapat dipahami dan diterima oleh anak.

Keempat, komunikasi antar orangtua, agar anak melihat orangtuanya secara seimbang maka orangtua harus membuat kesepakatan. Jangan salah satunya menjadi pahlawan “kesiangan” karena membela anak.

Kelima, beri pengertian orang sekitar, terutama orang terdekat agar tahu bahwa anak sedang dilatih menghilangkan perilaku tantrum. Diskusikan kepada mereka  mengenai hasil penelitian dengan bahasa yang mudah dimengerti.

Sesuai dengan janji Allah SWT, bila kita dapat menghadapi perilaku tantrum pada anak, insyaAllah pahala yang besar akan dilimpahkan oleh Allah. Karena anak merupakan titipan Allah, maka sudah sewajarnyalah orangtua bertanggung jawab menjaga amanah tersebut dengan cara-cara yang tepat dan wajar.

Leave a Comment