Menjaga Diri Selalu Pribadi Rendah Hati

Dalam kehidupan sehari-hari, tidak mudah kita bersikap tawadhu atau rendah hati. Dalam kenyataan, lebih mudah kita mengunggulkan kehebatan, prestasi, dan nilai-nilai lebih yang kita miliki.

rendah-hati-ht29

Susah kita bersikap seakan-akan kita bukan siapa-siapa. Sedikit memiliki kedudukan atau jabatan, langsung saja kita merasa tinggi hati.  Sangat mudah kita membanggakan hal-hal sepele yang kita miliki. Sifat seperti inilah yang menghalangi shalat kita diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Mari kita camkan sabda Rasulullah Shalallaahu ‘Alahi Wasallam: “Tiada berkurang harta karena sedekah, dan Allah tiada menambah pada seseorang yang memaafkan melainkan kemuliaan. Dan tiada seseorang yang bertawadhu kepada Allah, melainkan dimuliakan oleh Allah.” (HR. Muslim).

Hadist lain diriwayatkan dari Iyadh bin Himar, Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya AllahSubhanahu wa Ta’ala telah mewahyukan kepadaku: ‘Bertawadhulah hingga seseorang tidak menyombongkan diri terhadap lainnya dan seseorang tidak menganiaya terhadap lainnya.” (HR. Muslim).

Beberapa kisah berikut sangat berkesan untuk kita teladani. Rasul yang mulia ini sungguh merupakan makhluk yang rendah hati. Tidakkah sunnah ini yang utama untuk kita tiru dan gugu?

Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Nabi memiliki seekor unta yang diberi nama al-‘adhba’yang berarti unta yang tidak terkalahkan larinya. Suatu hari datang seorang Arab dusun (a’rabiy) dengan untanya dan mampu mengalahkan. Hati kaum muslimin terpukul menyaksikan hal tersebut, sampai hal itu diketahui oleh Nabi.

Beliau bersabda: “Menjadi haq Allah jika ada sesuatu yang meninggikan diri di dunia pasti akan direndahkan-Nya” (HR. Bukhari). Allah mengajari utusan-Nya untuk rendah hati dan tidak menyombongkan diri meski sekadar memberi julukan pada hewan kesayangannya.

Anas juga meriwayatkan kebiasaan indah Nabi bila bertemu anak-anak. Beliau sangat menyayangi mereka. Beliaulah yang mengucapkan salam lebih dahulu. Bahkan, sebagaimana kita ketahui, beliau menyarankan kita menyapa siapa pun lebih awal. “Afsyu al-salam ila man arafta wa man lam ta’rifhu“, ucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan belum kamu kenal.

Muhammad Rasulullah makhluk termulia. Dunia dan seluruhnya diciptakan karena dirinya. Setiap doanya mustajab dan dikabulkan. Namun beliau memilih tetap rendah hati dan sangat santun. Riwayat Abu Said al-Khudarii berikut sangat menyentuh hati.

Mampukah kita teladani akhlak-akhlak luhur berikut:

– Bila bajunya sobek, tangan mulia Rasulullah menjahitnya sendiri. Padahal, semua sahabat dan istri-istrinya siap selalu membantunya. Beliau teladan paripurna sepanjang zaman. Seperti tradisi masyarakat padang pasir umumnya, beliau memiliki unta sebagai tunggangan utama. Meski beliau ada pembantu di rumahnya, tidak segan-segan beliau memberi makan sendiri tunggangannya.

Bila rumahnya bocor, beliau memperbaikinya. Rasulullah juga tidak segan-segan memerah susu kambing untuk kebutuhan hidupnya. Bila sandalnya rusak beliau menambalnya sendiri.

– Bila makanan disajikan, beliau ajak para pembantunya untuk bersama-sama menikmati rezeki dan karunia itu. Kalau kebutuhan dapur keluarganya habis, segera beliau menuju pasar Madinah. Barang belanjaan itu dijinjingnya sendiri. Rasulullah mudah iba hati bila melihat penderitaan orang lain.

Bila ada kabar seseorang sakit beliau menjenguknya. Beliau tidak memilih dan memilah siapa yang sakit. Kaya, miskin, tua ataupun muda selalu dihibur dan dibahagiakannya. Bersama sahabat-sahabat yang lain beliau mengantarkan jenazah.

Mereka yang sakit terhibur dengan motivasi dan kabar adanya pahala dan dosa yang terhapus karena cobaan itu. Mereka yang ditinggal mati oleh keluarganya, akan dihiburnya.

– Jarang beliau menginapkan makanan atau minuman di rumahnya. Beliau contoh agung seorang dermawan. Sorban dan baju yang melekat di tubuhnya bila diminta sekalipun oleh Arab dusun dilepaskannya.Tiada bandingannya dalam hal kedermawanan.

Wajahnya selalu ceria dan tersenyum. Diriwayatkan, wajahnya indah dipandang, menyerupai bulan purnama. Senyum dan cerah menghias wajahnya yang memang rupawan.

Sejatinya keturunan bani Adam tidak memiliki sifat sombong atau takabur, karena sifat ini menjadi watak dasar Iblis. Bukankah sifat yang dimurkai Allah saat Adam di surga adalah sifat tamak dan rakus. Sedang sifat Iblis yang menyebabkan moyang setan, musuh abadi manusia ini terusir dan terlempar dari surga, adalah sifat takabur atau sombong diri. Bahkan sifat ini menyebabkan Iblis dilaknat dan dikutuk abadi oleh Allah. Karena sifat tinggi hati dan besar kepala itu, makhluk ini tidak terampuni selamanya.

Seperti Rasulullah tandaskan, tidak akan masuk surga mereka yang dalam hatinya ada sekerikil rasa sombong. Al-Qur’an sangat mengecam sifat yang tidak layak disandang manusia yang hina.

Dan janganlah kalian berjalan di atas bumi ini dengan menyombongkan diri, karena kalian tidak akan mampu menembus bumi atau menjulang setinggi gunung.” (al-Isra’: 37).

Dalam ayat lain Allah berfirman: “Negeri akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak menyombongkan diri di muka bumi dan kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (al-Qashash: 83).

Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (al-Furqan: 63).*

Leave a Comment