Cara Islam Menyembelih Hewan Metode Terbaik

Cara menyembelih hewan menurut islam adalah dengan cukup pisau yang tajam. Namun cara ini dianggap kejam oleh orang-orang barat (non muslim) benarkah?

Rasulullah SAW. bersabda : “Sesungguhnya Allah menetapkan kebaikan (ihsan) pada segala sesuatu, maka jika kalian membunuh hendaklah kalian berbuat ihsan dalam membunuh, dan apabila kalian menyembelih, maka hendaklah berbuat ihsan dalam menyembelih, (yaitu) hendaklah salah seorang dari kalian menajamkan pisaunya agar meringankan binatang yang disembelihnya” (HR. Muslim).

Menurut mereka orang orang barat, kalau kita ingin mengkonsumsi daging binatang ternak, maka haruslah dengan cara yang baik, tidak dengan menyiksa atau menganiaya ternak semacam itu. Cara yang terbaik, menurut mereka, adalah dengan memingsankan ternak terlebih dahulu, untuk selanjutnya disembelih setelah tidak sadar (pingsan). Pemingsanan dapat dilakukan dengan berbagai alat pemingsan, seperti : stunning gun, pembiusan, atau menggunakan arus listrik. Setelah pingsan, hewan tersebut tidak akan merasa kesakitan. Cara seperti ini mereka yakini sebagai cara yang terbaik, karena hewan tidak meronta-ronta, tidak nampak kesakitan, tidak nampak teraniaya, dan sepertinya tidak merasa sakit karena telah pingsan.

Metode pemingsanan yang dikatakan terbaik yang sering mereka lakukan adalah dengan cara memukul bagian tertentu di kepala ternak dengan kecepatan tertentu dan beban tertentu. Alat yang dipakai untuk membuat pingsan adalah Captive Bolt Pistol (CBP). Cara inilah yang mereka klaim sebagai cara terbaik dan paling manusiawi. Selain itu, cara ini dapat melindungi pekerja dari kemungkinan kecelakaan.

Subhaanallah, di tengah-tengah kegundahan umat Islam, dengan sengaja Allah Swt. telah kirimkan jawabannya melalui 2 orang staf ahli peternakan dari Hannover University, sebuah universitas terkenal di Jerman. Beliau berdua adalah Prof. Dr. Schultz dan koleganya, Dr. Hazim. Berdua beliau memimpin suatu tim penelitian yang terstruktur untuk menjawab pertanyaan: manakah yang lebih manusiawi dan paling tidak sakit,  penyembelihan secara Syari’at Islam (tanpa proses pemingsanan), atau penyembelihan dengan cara Barat (dengan pemingsanan).

prof-dr-schultz-dan-dr-hazim

Beliau berdua merancang penelitian sangat canggih mempergunakan sekelompok sapi yang telah cukup umur (dewasa). Pada permukaan otak kecil sapi-sapi tersebut dipasang elektroda tertentu (microchip) yang disebut Electro-Encephalograph (EEG). EEG dipasang pada permukaan otak yang menyentuh titik (panel) rasa sakit di permukaan otak. Alat ini dipakai untuk merekam dan mencatat derajat atau tingkatan rasa sakit sapi ketika disembelih. Pada jantung sapi-sapi tersebut juga dipasang Electro-Cardiograph (ECG) untuk merekam aktivitas jantung saat darah keluar.

Untuk menekan kesalahan, sapi dibiarkan beradaptasi dengan EEG dan ECG (yang telah terpasang) beberapa pekan. Setelah masa adaptasi dianggap cukup, separuh sapi disembelih secara Syari’at Islam dan separuh sisanya disembelih secara Metode Barat.

Syari’at Islam menuntunkan penyembelihan dilakukan dengan menggunakan pisau yang sangat tajam dengan memotong 3 saluran pada leher bagian depan (saluran makanan, saluran nafas, serta 2 saluran pembuluh darah, yaitu : arteri karotis dan vena jugularis). Syari’at Islam tidak merekomendasikan pemingsanan. Sebaliknya, Metode Barat (Western Method) mengajarkan ternak dipingsankan dahulu sebelum disembelih.

Selama penelitian, grafik EEG dan ECG pada seluruh ternak dicatat untuk merekam keadaan otak dan jantung semenjak sebelum pemingsanan (atau penyembelihan) hingga hewan ternak benar-benar mati. Nah, hasil penelitian inilah yang kita tunggu-tunggu!

Hasil penelitian Prof. Schultz dan Dr. Hazim di Hannover University Jerman adalah sebagai berikut :

Penyembelihan menurut Tuntunan Syari’at Islam

  1. Pada 3 detik pertama setelah disembelih (dan ketiga saluran pada leher sapi bagian depan terputus), tercatat bahwa tidak ada perubahan pada grafik EEG. Hal ini berarti bahwa pada 3 detik pertama setelah disembelih tidak ada indikasi rasa sakit.
  2. Pada 3 detik berikutnya, EEG pada otak kecil merekam adanya penurunan grafik secara gradual (bertahap) yang sangat mirip dengan kejadian deep sleep (tidur nyenyak) hingga sapi-sapi tersebut unconsciousness (benar-benar kehilangan kesadaran). Pada saat tersebut, tercatat pula oleh ECG bahwa jantung mulai meningkat aktivitasnya.
  3. Setelah 6 detik pertama tersebut, ECG merekam adanya aktivitas luar biasa dari jantung untuk menarik sebanyak mungkin darah dari seluruh anggota tubuh dan memompanya keluar. Hal ini merupakan refleks gerakan koordinasi antara otak kecil dan jantung melalui sumsum tulang belakang (spinal cord). Subhaanallah, pada saat darah keluar melalui ketiga saluran yang terputus di bagian leher, grafik EEG tidak naik, tapi justeru drop sampai ke zero – level (angka nol). Kedua ahli tersebut menterjemahkan sebagai : “No feeling of pain at all!” (tidak ada rasa sakit sama sekali!) Allaahu Akbar! Walillaahil hamdu!
  4. Karena darah tertarik dan terpompa oleh jantung keluar tubuh secara maksimal, maka dihasilkan healthy meat (daging yang sehat) yang layak dikonsumsi oleh manusia karena seperti kita ketahui bahwa darah adalah kotor karena hingga Al Qur’an melarang mengkomsumsi darah. Jenis daging semacam ini yg mengandung sangat sedikit darah diyakini sangat sesuai dengan prinsip Good Manufacturing Practice (GMP) yang menghasilkan Healthy Food. Al Qur’an juga melarang binatang yg disembelih tanpa menyebut nama Allah, melarang hewan yg mati jatuh, atau dipukul yg menyebabkan darah dalam hewan tidak keluar secara maksimal.

Penyembelihan ala Barat (Western Method)

  1. Segera setelah dilakukan proses stunning (pemingsanan), sapi terhuyung jatuh dan collaps (pingsan). Sapi tidak bergerak-gerak lagi sehingga sangat mudah dikendalikan. Oleh karena itu, sapi dapat dengan mudah disembelih, tanpa meronta-ronta, dan (nampaknya) tanpa rasa sakit. Pada saat disembelih, darah yang keluar hanya sedikit (tidak sebanyak bila disembelih tanpa proses stunning).Sehingga darah yg tersisa masih banyak dalam tubuh binatang dan ini membahayakan karena darah mengandung banyak penyakit.
  2. Segera setelah proses pemingsanan, tercatat adanya kenaikan yang sangat nyata pada grafik EEG. Hal tersebut mengindikasikan adanya tekanan rasa sakit diderita oleh ternak segera setelah kepalanya dipukul.
  3. Grafik EEG meningkat sangat tajam dengan kombinasi grafik ECG yang drop sampai batas paling bawah. Hal ini mengindikasikan adanya peningkatan rasa sakit yang luar biasa sehingga jantung berhenti berdetak lebih awal. Akibatnya, jantung kehilangan kemampuannya untuk menjalankan tugas menarik darah dari seluruh bagian organ tubuh, serta tidak lagi mampu memompanya keluar dari tubuh.
  4. Karena darah tidak tertarik dan tidak terpompa keluar tubuh secara maksimal, maka dihasilkan unhealthy meat (daging yang tidak sehat), sehingga tidak layak dikonsumsi oleh manusia. Disebutkan dalam khasanah ilmu dan teknologi daging (dipelajari di Fak. Peternakan UGM), bahwa timbunan darah (yang tidak sempat keluar pada saat ternak mati/ disembelih) merupakan tempat yang sangat ideal bagi tumbuh kembangnya bakteri pembusuk yang merupakan agen utama perusak kualitas daging.

Maha Suci Allah! Meronta-ronta dan meregangkan otot pada saat ternak disembelih ternyata bukanlah ekspresi rasa sakit! Sangat jauh berbeda dengan dugaan kita sebelumnya! Bahkan mungkin sudah jamak menjadi keyakinan kita bahwa setiap darah yang keluar dari anggota tubuh yang terluka pastilah disertai rasa sakit dan nyeri. Lebih-lebih yang terluka adalah leher dengan luka terbuka yang menganga lebar…!

Hasil penelitian Prof. Schultz dan Dr. Hazim berhasil membuktikan bahwa pisau yang mengiris leher (ref. Syari’at Islam) tidaklah ‘menyentuh’ saraf rasa sakit. Beliau berdua menyimpulkan bahwa ekspresi sapi meronta-ronta dan meregangkan otot bukanlah akibat rasa sakit, tetapi hanyalah ekspresi ‘keterkejutan saraf dan otot’ saja (yaitu pada saat darah mengalir keluar dengan deras). Mengapa demikian? Tentunya, hal ini tidak terlalu sulit dijelaskan (grafik EEG tidak menunjukkan adanya
rasa sakit).